SMAN 1 LAMANDAU
SMA NEGERI 1 LAMANDAU Website Resmi Sekolah
SMAN 1 LAMANDAU
SMA NEGERI 1 LAMANDAU

Jitara Web School • Portal Resmi

Mode Gelap
Aksesibilitas Web
Buka
Portal Masuk Admin & Guru
Karya Jurnalis Siswa Jurnalis Sekolah

DAMPAK ERUPSI GUNUNG ANAK KRAKATAU MELUAS HINGGA GANGGU PENERBANGAN

Kelompok Keyla-Ipry
Kelompok Keyla-Ipry Jurnalis Siswa
Kelas XI
5 Oktober 2026
3 mnt baca

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas hingga Ganggu PenerbanganSeptember 2026 — Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 menimbulkan...

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas hingga Ganggu Penerbangan

September 2026 — Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 menimbulkan dampak terhadap masyarakat, transportasi udara, dan lingkungan di wilayah sekitar. Abu vulkanik dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.


Sebaran Abu Vulkanik Capai Sejumlah Wilayah


Berdasarkan laporan BBC Indonesia, Kompas.com, ANTARA, dan informasi BMKG yang dikutip dalam pemberitaan mengenai erupsi tersebut, abu vulkanik mencapai beberapa wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah/Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Lampung, dan Bengkulu.


Tiga kabupaten yang dilaporkan mengalami dampak langsung adalah Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang. Sebaran abu vulkanik tersebut menunjukkan bahwa dampak erupsi dapat dirasakan hingga wilayah yang berada cukup jauh dari Gunung Anak Krakatau.


Penerbangan Terganggu


Dampak erupsi juga dirasakan pada transportasi udara. Radar Sampit Jawa Pos melalui berita yang ditulis Koko Sulistyo dan diterbitkan pada 7 September 2026 melaporkan sedikitnya enam penerbangan Batik Air dan NAM Air dari dan menuju Bandara Iskandar Pangkalan Bun dibatalkan.


Pembatalan penerbangan tersebut berkaitan dengan sebaran abu vulkanik serta penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik dapat berdampak pada perjalanan udara, termasuk penerbangan yang berada di wilayah yang cukup jauh dari lokasi gunung.


Perubahan Lingkungan Pulau-Pulau di Sekitar Anak Krakatau


Selain mengganggu penerbangan, erupsi juga menyebabkan perubahan pada lingkungan pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau.


Artikel The Conversation Indonesia berjudul “Setelah Anak Krakatau erupsi: Apa dampak terhadap pulau di sekitarnya?” yang diterbitkan pada 10 September 2026 dan ditulis oleh Dian Fiantis, Budiman Minasny, dan Frisa Irawan Ginting membahas perubahan vegetasi di sejumlah pulau berdasarkan citra satelit Sentinel-.


Di Pulau Sertung, nilai indeks vegetasi atau NDVI yang sebelumnya sekitar 0,72 pada 8 Agustus turun mendekati nol pada 8 September. Penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi permukaan vegetasi setelah erupsi.


Namun, penurunan nilai NDVI tidak secara langsung membuktikan bahwa seluruh vegetasi mati. Perubahan tersebut dapat dipengaruhi oleh lapisan abu, tertutupnya tumbuhan oleh material vulkanik, maupun faktor lainnya. Sementara itu, Pulau Panjang masih menunjukkan kondisi vegetasi yang lebih kuat.


Aktivitas Gunung Masih Dipantau


Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga terus dipantau. Suara Landak melaporkan bahwa aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sempat berhenti selama dua hari terakhir. Meskipun demikian, pemantauan tetap diperlukan karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.


Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik sekaligus mengantisipasi kemungkinan dampak terhadap masyarakat dan wilayah di sekitarnya.


Dampak Luas bagi Masyarakat dan Lingkungan


Erupsi Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa dampak letusan tidak hanya dirasakan di sekitar gunung, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, transportasi udara, serta kondisi ekosistem pulau-pulau di sekitarnya.


Sebaran abu vulkanik dapat mengganggu penerbangan, sementara material vulkanik yang mencapai pulau-pulau sekitar dapat menyebabkan perubahan pada kondisi vegetasi. Oleh karena itu, pemantauan dari darat dan satelit diperlukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung serta proses pemulihan lingkungan setelah erupsi.


Sumber dan Penulis


Radar Sampit Jawa Pos — “Enam Penerbangan di Pangkalan Bun Batal Akibat Erupsi Anak Krakatau”, Koko Sulistyo, 7 September 2026.

The Conversation Indonesia — “Setelah Anak Krakatau erupsi: Apa dampak terhadap pulau di sekitarnya?”, Dian Fiantis, Budiman Minasny, dan Frisa Irawan Ginting, 10 September 2026.

BBC Indonesia — laporan mengenai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kompas.com — laporan mengenai wilayah administratif yang terdampak erupsi.

ANTARA — laporan mengenai wilayah yang terdampak abu vulkanik.

BMKG — informasi mengenai sebaran abu vulkanik.

Suara Landak — laporan perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kelompok Keyla-Ipry
Kelompok Keyla-Ipry Penulis Berbakat
Siswa Kelas XI

Penulis adalah siswa aktif yang berpartisipasi dalam rubrik jurnalisme dan literasi sekolah untuk menyuarakan ide, kreativitas, dan wawasan generasi muda.

Ruang Ekspresi & Literasi Siswa
Artikel ini merupakan karya tulis orisinal yang disalurkan melalui program literasi siswa SMAN 1 LAMANDAU. Telah melalui proses kurasi serta penyuntingan redaksi sekolah sebagai wadah melatih kecakapan jurnalistik, berpikir kritis, dan kreativitas.
Bagikan Tulisan Siswa Ini:
Tautan tulisan siswa berhasil disalin!
Bacakan